Perang Talent di Dunia IT

0 komentar

Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi seperti FacebookGoogleZynga sejak beberapa tahun terakhir dilanda perang talenta. Dimana mereka dihadapkan dengan kenyataan semakin sulitnya menemukan talenta atau SDM yang bisa bersaing di dunia teknologi, di tengah perkembangan dunia digital yang semakin meluas dan sangat potensial.
Mengapa potensial? American Society for Training and Development memprediksi pada tahun 2015 nanti, 60% dari pekerjaan yang dicari membutuhkan special skills dari pekerja, sayangnya hanya 20% yang diprediksi akan mempunyai skill itu.
Bagaimana dengan dunia Teknologi Informasi (IT), menurut statistik di bawah ini, perusahaan akan banyak mencari lulusan IT dalam usaha mereka. Namun dari silabus menunjukkan jumlah mahasiswa lulusan IT semakin berkurang dari tahun 2004 hingga sekarang. Padahal permintaan untuk lowongan tersebut meningkat sebanyak 47%.
Berkurangnya SDM membuat perusahaan memilih “membajak” talenta yang sudah matang dari para “pesaing” nya. Dari statistik ini dapat tergambar para rekruiter semakin agresif dari tahun ke tahun, sebanyak 54% manager HR memilih membajak talent dari pesaingnya. Walaupun keputusan finalnya tetap di employee tersebut.
Imbas dari persaingan talenta ini berujung kepada turn-over yang tinggi, perusahaan besar sepertiDigg harus merelakan talent terbaiknya untuk pergi ke perusahaan yang bergerak di bidang yang sama. Di akhir 2010 Digg memecat 25 karyawannya yang langsung serta-merta pindah keGrouponTwitter dan IGN. Kasus yang sama dialami Yahoo, perusahaan yang berpusat di Sillicon Valley ini kehilangan Senior Director, Holger Luedorf yang memilih pindah keFoursquare. Dan sudah bukan rahasia umum lagi, 12% dari karyawan Facebook pernah bekerja di Google.
Mau tidak mau, berbagai langkah untuk menciptakan great place dilakukan Company tekonologi ini, Google, memilih untuk memberikan servis terbaik untuk karyawannya, seperti potong rambut gratis, katering makanan yang bermutu, Laundry gratis untuk semua karyawannya. Facebookmenawarkan gaji yang selangit, sekitar $106, 909 atau 1 milyar rupiah per tahun. Begitupun dengan Zynga yang memberikan bonus sekitar $100.000 sampai $150.000 untuk mempertahankan karyawannya, itupun belum termasuk kompensasi yang lain-lain.
Bahkan, sebuah riset dari institusi training di Amerika, Polachi Inc mencatat 78% talenta di bidang teknologi mengaku mendapatkan banyak tawaran bekerja dibanding tahun sebelumnya, 90% diminta untuk stay dengan tawaran gaji dan bonus yang maningkat dari tahun sebelumnya, dan 42% tidak ragu untuk memberikan bonus kepada karyawannya.
Yang mencengangkan, ternyata masih ada 11,7% pengangguran di Sillicon Valey, dan masih ada daftar pekerjaan yang meningkat 40% dari tahun ke tahun. Namun meski begitu, Silicon Valley masih menjadi tempat terproduktif dibandingkan dengan New York dan washington DC, rata-rata salary untuk engineer software di area ini mencapai $106,242 per tahun. Sebuah angka yang tidak kecil, bagaimana dengan Indonesia? Simak infographic dari Infographicas.com di bawah ini.



Poskan Komentar