Iran Bongkar Misteri Terbunuhnya Ilmuwan Nuklir

0 komentar

 
DETIKPOS.net – Iran telah menangkap beberapa orang yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap tewasnya ilmuwan nuklir mereka. Mereka berhasil diburu dan ditangkap atas dugaan upaya mensabotase program nuklir negara itu.
Menteri Intelijen Iran Heydar Moslehi mengatakan, Iran telah menutup dua jaringan dalam dan luar negeri yang dikatakannya terlibat dalam pelatihan para pembunuh, demikian dilansir Kantor Berita Fars, Ahad (22/7).
Sedikitnya empat ilmuwan yang terkait dengan program nuklir Iran tewas terbunuh sejak 2010. Korban kelima adalah Fereydoun Abbasi Davani, sekarang menjabat Kepala Organisasi Energi Atom Iran, terluka.
Negara-negara Barat menduga Iran melakukan penimbunan dan pengayaan uranium sebagai bahan bakar untuk senjata nuklir. Iran juga mencoba mengembangkan teknologi yang dibutuhkan untuk membuat bom aktif. Namun, Iran membantahnya. Menurut mereka, aktivitas nuklir itu, hanya diperuntukkan untuk tujuan perdamaian.
Moslehi tidak mengatakan berapa banyak orang yang ditahan. Ia juga tidak menyebutkan apa mereka harus bertanggung jawab, di mana jaringan itu dioperasikan.
“Mereka (dua jaringan) mengambil langkah untuk tak meninggalkan jejak sama sekali, namun mereka dihantui oleh kesalahannya,” ujar dia.
Iran menyalahkan pembunuhan yang terjadi itu dilakukan agen mata-mata Amerika Serikat, Israel, Perancis, Inggris, dan Jerman. Terutama sekali agen mata-mata Israel, Mossad.
Pada Mei, Iran menggantung Jamal Fashi, atas pembunuhan ilmuwan Massoud Ali Mohammadi pada Januari 2010. Iran mengatakan Fashi ke Israel untuk mendapat pelatihan.
Amerika Serikat menyangkal semua tuduhan pembunuhan itu. Namun, Israel masih membisu.
Pembicaraan sporadis antara enam kekuatan dunia dan Iran untuk meredakan ambisi nuklirnya yang lebih dari satu dekade itu, gagal membuahkan terobosan.
Uni Eropa melarang impor, pembelian atau pengiriman minyak Iran yang mulai berlaku 1 Juli. Larangan itu sebagai bagian meluasnya sanksi dunia yang bertujuan agar Teheran membatasi pengayaan, dan membuka diri terhadap inspeksi nuklir PBB.
Sumber: metrotvnews
Editor: Risma

Poskan Komentar